TIGA HARI UNTUK SELAMANYA
[Testimoni BBT#37 Malang PBI]
Hendak merangkai kata sejak hari Ahad lalu, namun rasanya belum bisa move on dari berbinar-binarnya hati saya mendapat “hujan ilmu” yang berkali-kali menampar kesombongan saya selama ini. Saya menyerah dan berserah semoga memarnya ke-aku-an diri ini membawa perubahan lebih dan lebih dekat lagi pada takwa.
Nama saya Nidia Rosyiana, namun saya lebih sering dipanggil dengan nama Nia Nio. Saya sebetulnya asli Purwokerto namun sejak lulus kuliah saya hijrah ke Jakarta untuk bekerja dan saat ini menetap di Depok. Sampai dengan setahun yang lalu saya adalah “bangsawan” (bangsa karyawan). Sepuluh tahun bekerja di industri keuangan syariah, maka riba bagi saya memang musuh nyata. Alasan saya berpindah ranah, selain kita tahu industri syariah masih perlu banyak didukung edukasi yang benar dan lurus, saya ingin lebih punya prioritas waktu untuk anak-anak saya.
Tidak mudah bagi mantan bangsawan berpindah kuadran, yang utama pastinya faktor mentalitas. Ditambah jet lag ketika berproses membersamai anak-anak dengan waktu yang lebih banyak, padahal biasanya paling optimal hanya Sabtu Ahad. Saat ini saya diberi amanah menjadi ketua sebuah komunitas pemberdayaan perempuan untuk wilayah Depok, dan sedang menyiapkan usaha yang setahun ini mau launch namun ada saja kendalanya. Alhamdulillah dengan proses yang tidak mudah namun yakin bisa, diteguhkan puncaknya di BBT#37 PBI kali ini.
Saya mendapat info acara PBI ini dari mas Bara, Baratadewa. Kebetulan kami satu perguruan sertifikasi Financial Planning dan juga satu almamater yaitu Unsoed, Purwokerto. Dijelaskan tentang apa itu BBT dan di encourage untuk ikut. Ajaib, saya daftar saat pendaftaran semestinya sudah tutup tapi saya masih ikhtiar untuk ngisi, karena link pendaftaran masih nyala. Surprise sekali ketika tetiba saya masuk grup calon peserta.
Betullah adanya ketika disampaikan perjalanan hingga sampai menjadi peserta BBT#37 ini bukan tanpa digerakkan oleh Allah. Saya mau cerita, barangkali pak Yuli dan kak Wida sebagai pemandu di group#4 Calon peserta mengingatnya, saya beberapa kali konsultasi mengenai kegelisahan bahwa saya belum dapat kepastian keridhoan ibu saya untuk menjaga dua buah hati saya untuk saya menuju Malang, sehingga saya sempat bertanya apa memungkinkan mengajak serta anak yang kecil, dua tahun, atau seperti apa jika saya mengundurkan diri. Bayangan akan tertutup kesempatan berikutnya diyakinkan oleh Pak Yuli, jika udzur syar’i dipertimbangkan untuk ada kesempatan mendaftar di batch berikutnya, sambil pak Yuli berpesan: coba nanti malam minta solusi pada Allah. Saya langsung nyess…. seketika, siapalah saya ini, bisa mengatur-atur sendiri urusan ini, tentu pemilikku lah yang lebih berkuasa atas semuanya.
Saya jalankan pesan pak Yuli, sambil terus negosiasi dan memohon ridho kedua orangtua dan suami, kebetulan saya dan suami sedang posisi berbeda lokasi karena pekerjaan suami.
Singkatnya, saya berhasil berangkat. Dan menerima dengan ikhlas tersebab sangat mepet persetujuan keluarga saya sudah tidak dapat tiket kereta, maka menggunakan bus. Awalnya ada kekhawatiran karena sudah hampir 6 tahun tidak naik bus ke daerah Jawa. Tapi alhamdulillah, kekhawatiran apapun tertepis dan Allah menjaga saya selamat sampai tujuan.
3 Hari Untuk Selamanya
Rasanya ini judul yang tepat untuk mewakili perasaan saya. Tiga hari ini entah bagaimana bagi saya membentuk diri saya yang baru sampai pada behavior saya. Suasana seperti ini mengingatkan pada saya saat saya tengah menempuh pendidikan calon officer di Bank Syariah tempat saya bekerja dahulu. Persis, kita bangun saat tahajud dan seterusnya belajar hingga malam. Rasa rindu suasana ini terobati, menengadah di akhir malam beratapkan bintang gemintang yang sudah berapa puluh purnama tidak bisa saya saksikan dari langit Jakarta maupun Depok, menyisipkan haru dan bahagia di hati saya. Saya suka dingin saya tidak merasa kedinginan di Batu, saya seperti di rumah, sejuk. State yang sulit digambarkan sholat di alam terbuka seperti itu ya bahagia, senang, tunduk, merasa kecil, merasa syukur yang tiada terkira dengan indah dan segarnya alam raya, paru paru saya terbersihkan menghirup lekat lekat semilir angin fajar. Pulang dari Batu, yang tadinya saya masih batuk, saat ini sudah sangat reda, jauh lebih nyaman.
Sejak berangkat saya memang pamit pada kawan-kawan pengurus di komunitas saya mau menuntut ilmu dan muhasabah diri, dan izin untuk slow respon menanggapi beragam urusan. MasyaaAllah Allah kabulkan, berapa kali kening ini ditepuk tepuk insyaf dan itu tak sekedar slogan, itu terpatri sangat dalam jiwa.
Sengaja hingga Rabu ini saya hendak mengendapkan apa yang saya peroleh akankah berdampak signifikan, MasyaaAllah subhanallah…sungguh…sekarang saya gelisah jika begitu adzan tak segera menyambut panggilan Allah yang menyayangi saya. Entah bagaimana saya diberi kemudahan untuk mengkondisikan kedua anak saya ketika bundanya ingin segera sholat. Sebelumnya, saya selalu excuse jika ada anak saya yang membutuhkan saya, saya kesampingkan panggilannya, astaghfirullah.
Hal berikutnya adalah, saya sekuat tenaga melatih diri untuk berkata dan berbicara dengan lembut, ke anak, ke ibu saya, seperti ada cermin yang kemana-mana mengikuti saya saat ini jika saya tidak usaha keras mengamalkan apa yang diajarkan di BBT#37 ini.
Masih banyak sebetulnya, apalagi materi pondasi spiritual bisnis yang amat sangat menguatkan dasar business plan yang saat ini tengah saya susun. Spirit kebaikan dan kerelawanan ini yang selaras sekali dengan komunitas yang tengah saya kelola menjadikan saya merenung, berpikir untuk connecting the dots,, memang Allah punya rencana atas saya untuk semua ini.
Masih akan menulis beberapa kali nanti tentang BBT#37 ini di Facebook mungkin nanti ya, overall jazaakumullahu Khairan katsir untuk seluruh panitia dan para ustadz dan coach narasumber serta DPP PBI yang sudah sangat mumtaz bagi saya pribadi dalam pelaksanaannya. Saya fokus pada kebaikan, yang kurang kurang hanyalah feedback saja untuk peningkatan kemudian hari. Terima kasih, saya akhirnya merasakan gimana rasanya di pesantren, mimpi kecil yang belum pernah terlaksana. Alhamdulillah diwujudkan oleh Allah melalui PBI. Jadi, tiga hari untuk selamanya berarti, tiga hari untuk selamanya inSyaaAllah yang menjadikan saya pribadi kuat niat untuk menjadi #changemaker, mari kita berdayakan umat. Ada salah satu presuposisi di NLP yang saya rasa cocok dalam konteks ini: “The one who set the frame, control the game” maka mari kita set the frame untuk menguatkan, Bela Beli Indonesia, let’s control the game, bro!.
Keep fight semua saudara saudariku, tetap semangat! Tetap Kompak! Pesantren Bisnis Indonesia, Allahu Akbar.
Salam,
NiaNio
Depok.
